Press release juguran #2 “Mengulik Rasisme Papua di Jawa Timur”

PRESS RELEASE JUGURAN 2

12 September 2019

Judul : Mengulik Rasisme Papua Di Jawa Timur

Ada banyak isu yang perlu dipertanyakan lagi soal apa yang terjadi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Peristiwa diawali adanya isu perusakan simbol negara yaitu Bendera Merah putih di depan asrama yang dilakukan  mahasiswa Papua yang sampai saat ini tidak diketahui siapa pelakunya. Terjadi pengepungan asrama dan penangkapan mahasiswa Papua yang dilakukan oleh Organisasi Masyarakat dan Aparat kepolisian disertai dengan perusakan asrama dan ujaran rasis. Tindakan aparat kepolisian di atas tidak saja gagal dalam memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat namun sebaliknya membenarkan tindakan diskriminatif, intimidatif, dan rasisme terhadap mahasiswa Papua sebelum dugaan perusakan Bendera Merah Putih terbukti. Tindakan deskriminasi dan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Jawa Timur ini mengakibatkan terjadinya kerusahan di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat sebagai bentuk solidaritas. Lebih jauh lagi, kerusuhan ini dimanfaatkan bagi kelompok separatis di Papua untuk berpisah dari NKRI

Kerusuhan tersebut ditengarai sebagai upaya sabotase yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan serta adanya ketakutan jika perkumpulan Mahasiswa Papua ini dikhawatirkan sedang merencanakan adanya gerakan oposisi. Sedangkan jika di telisik lagi, peristiwa kerusuhan yg membuat kalangan Organisasi Masyarakat marah adalah karena mahasiswa Papua sering tidak memasang bendera merah putih di depan asrama menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) RI setiap tahunnya.

Rasisme adalah masalah rasial yang mendarah daging di tengah  kehidupan masyarakat multikultur di berbagai belahan dunia, seperti halnya di Indonesia dimana terdiri dari berbagai jenis suku bangsa dan terdiri dari 34 Provinsi saat ini sangat rawan untuk adanya konflik terkait rasisme. Menurut George M Fredickson (2005:3) istilah rasisme sering digunakan secara longgar dan tanpa banyak pertimbangan untuk melukiskan  permusuhan dan perasaan negatif suatu kelompok etnis atau masyarakat terhadap kelompok lain, serta sebagai tindakan yang dihasilkan dari sikap-sikap itu. Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya. Ada beberapa suku di Indonesia yg merasa superior serta. Berbagai wilayah yang menjadi pusat pembangunan juga paling banyak dinikmati oleh orang-orang daru Suku Jawa. Hal yang di sayangkan dari peristiwa di surabaya ini adalah tindakan aparat kepolisian sebagai lembaga yang menjaga ketertiban, keamanan dan penegakan di Indonesia seolah olah ikut mengiyakan tindakan deskriminasi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

Adanya pola pikir yang sudah terbentuk lama terhadap masyarakat Papua bahwa masyarakat Papua dirasa tidak mampu jika merdeka akan tetapi kurang sesuai jika bergabung dengan NKRI karena perbedaan ras akan tetapi Indonesia bersikukuh mempertahankan Papua karena Papua memiliki sumberdaya akan tetapi kurang memperhatikan sumber daya manusia papua itu sendiri. Kemarahan masyarakat Papua sendiri memang sudah ada di masyarakat tingkat bawah itu sendiri, dimana pembangunan papua di kota itu sendiri masih di dominasi oleh orang-orang yang bukan asli Papua. Dengan adanya kerusuhan yg dilakukan di berbagai wilayah di Papua dan Papua Barat seolah-olah memberikan pesan bahwa Papua tidak melulu hanya menginginkan adanya pembangunan infrastruktur semata, Papua hanya ingin dimanusiakan dan tidak dianggap sebagai ras suku yang terbelakang. Kerusuhan yg terjadi di papua juga diakibatkan karena adanya campur tangan media yang menyajikan pemberitaan yang berlebihan dan keterlibatan beberapa oknum yg memanfaatkan situasi ini.

%d bloggers like this: